Prospek agribisnis hortikultura (buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman hias, dan biofarmaka) di masa sekarang dan mendatang cukup menjanjikan. Betapa tidak. Dengan pengembangan hortikultura merupakan komoditi sumber pendapatan tunai meningkatkan pendapatan masyarakat, perluasan lapangan kerja, menghemat atau meningkatkan devisa negara, dan lain-lain.
Namun demikian keberhasilan pengembangan usaha agribisnis hortikultura sangat tergantung pada peran serta seluruh jajaran dari pemerintah pusat, pemerintah daerah/dinas atau instansi terkait, perguruan tinggi, pemerhati, stakeholder dan khususnya petani itu sendiri. Oleh karena itu dengan anggaran pemerintah yang sangat terbatas, kunci keberhasilan pengembangan agribisnis hortikultura adalah memberdayakan dan menggerakkan swasta atau pelaku usaha, petani, asosiasi dan lain-lain.
Swadaya Masyarakat
Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) “Pada Makmur” dari Desa Asto Mulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung, merupakan salah satu kawasan swadaya agribisnis hortikultura yang patut dicontoh di daerah lain. Tanpa bantuan dari pemerintah kegiatan swadaya pengembangan agribisnis hortikultura di daerah tersebut telah berkembang cukup baik, sehingga patut dicontoh daerah lainnya.
Gapoktan “Pada Makmur” yang merupakan gabungan dari 32 kelompok tani dengan jumlah anggota kelompok 35 s/d 50 orang setiap kelompok memiliki 7 kelompok kawasan tanaman nenas seluas 263 hektar. Ketujuh kelompok tani tersebut adalah KT Sinjai dengan luas lahan 40 hektar dan 50 orang anggota, KT Tani Makmur 29 hektar dan 50 orang anggota, KT Sami Roso 28 hektar dan 48 orang anggota, KT Usaha Bersama 25 hetkar dan 48 orang anggota, KT Karya Maju 33 hektar dan 49 orang anggota, KT Nenas 30 hektar dengan anggota 50 dan KT Barokah 48 hektar dengan anggota 37 orang.
Petani anggota kelompok berusaha tani sejak tahun 1987 dengan varietas nenas Madu atau nenas Batu yang asal mulanya dibawa dari Banyuwangi. Volume tanaman nenas yang diusahakan petani berkisar antara 36.000 s/d 40.000 batang per hektar dengan umur panen pertama 1,5 tahun s/d 2 tahun dan sekali tanam akan mengalami panen 3-4 kali. Sejak tahun 1987 petani tidak pernah menggunakan bibit dari luar Desa Asto Mulyo dengan harga Rp. 100/batang. Pada umumnya petani mempergunakan bibit dari pertanaman mereka sebelumnya, baru kalau kurang membeli dari petani lainya.
Subsidi Pupuk
“Sebagaimana petani tanaman padi, kami petani hortikultura juga mengusulkan kepada pemerintah untuk memperoleh subsidi pupuk dan melakukan distribusi sendiri kepada anggota kelompok”, kata Sugeng Purwoko Ketua Gapoktan “Pada Makmur” saat dilakukan temu wicara dengan Dirjen Hortikultura di Lampung pada kesempatan Pekan Raya Hortikultura, baru-baru ini.
Namun demikian keberhasilan pengembangan usaha agribisnis hortikultura sangat tergantung pada peran serta seluruh jajaran dari pemerintah pusat, pemerintah daerah/dinas atau instansi terkait, perguruan tinggi, pemerhati, stakeholder dan khususnya petani itu sendiri. Oleh karena itu dengan anggaran pemerintah yang sangat terbatas, kunci keberhasilan pengembangan agribisnis hortikultura adalah memberdayakan dan menggerakkan swasta atau pelaku usaha, petani, asosiasi dan lain-lain.
Swadaya Masyarakat
Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) “Pada Makmur” dari Desa Asto Mulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung, merupakan salah satu kawasan swadaya agribisnis hortikultura yang patut dicontoh di daerah lain. Tanpa bantuan dari pemerintah kegiatan swadaya pengembangan agribisnis hortikultura di daerah tersebut telah berkembang cukup baik, sehingga patut dicontoh daerah lainnya.
Gapoktan “Pada Makmur” yang merupakan gabungan dari 32 kelompok tani dengan jumlah anggota kelompok 35 s/d 50 orang setiap kelompok memiliki 7 kelompok kawasan tanaman nenas seluas 263 hektar. Ketujuh kelompok tani tersebut adalah KT Sinjai dengan luas lahan 40 hektar dan 50 orang anggota, KT Tani Makmur 29 hektar dan 50 orang anggota, KT Sami Roso 28 hektar dan 48 orang anggota, KT Usaha Bersama 25 hetkar dan 48 orang anggota, KT Karya Maju 33 hektar dan 49 orang anggota, KT Nenas 30 hektar dengan anggota 50 dan KT Barokah 48 hektar dengan anggota 37 orang.
Petani anggota kelompok berusaha tani sejak tahun 1987 dengan varietas nenas Madu atau nenas Batu yang asal mulanya dibawa dari Banyuwangi. Volume tanaman nenas yang diusahakan petani berkisar antara 36.000 s/d 40.000 batang per hektar dengan umur panen pertama 1,5 tahun s/d 2 tahun dan sekali tanam akan mengalami panen 3-4 kali. Sejak tahun 1987 petani tidak pernah menggunakan bibit dari luar Desa Asto Mulyo dengan harga Rp. 100/batang. Pada umumnya petani mempergunakan bibit dari pertanaman mereka sebelumnya, baru kalau kurang membeli dari petani lainya.
Subsidi Pupuk
“Sebagaimana petani tanaman padi, kami petani hortikultura juga mengusulkan kepada pemerintah untuk memperoleh subsidi pupuk dan melakukan distribusi sendiri kepada anggota kelompok”, kata Sugeng Purwoko Ketua Gapoktan “Pada Makmur” saat dilakukan temu wicara dengan Dirjen Hortikultura di Lampung pada kesempatan Pekan Raya Hortikultura, baru-baru ini.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar