.linkopacity img { filter:alpha(opacity=30); -moz-opacity: 0.30; opacity: 0.30; border:0; } .linkopacity:hover img { filter:alpha(opacity=100); -moz-opacity: 1.0; opacity: 1.0; border:0; } .linkopacityxtra:hover img { filter:alpha(opacity=1.1); -moz-opacity: 1.1; opacity: 1.1; border:0; }


Daftar Blog Saya

Kamis, 05 Maret 2009

SBY Tak Populer di Kalangan Buruh
Kalah oleh Megawati dan Jusuf Kalla

JAKARTA - Suara buruh dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009
mengisyaratkan tidak bulat ke capres tertentu. Survei nasional yang
dilakukan Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu itu menyebutkan
bahwa 80,6 persen responden menyatakan tak ingin SBY terpilih lagi.

Dalam survei yang khusus memotret suara kaum buruh tersebut, hanya
17,6 persen yang menginginkan sebaliknya. Sisanya, 2,2 persen, memilih
untuk abstain.

''Senang atau tidak, inilah faktanya,'' ujar Ketua Presidium FSP BUMN
Bersatu FX Arif Poyuono saat memaparkan hasil survei lembaganya di
Hotel Aston, Jakarta, kemarin (22/1). Dia menambahkan, gencarnya
gerakan populis dari SBY akhir-akhir ini ternyata tak berpengaruh
besar pada persepsi kaum buruh.

Kekecewaan kaum buruh terhadap kebijakan pemerintah soal perburuhanlah
yang diperkirakan menjadi penyebabnya. Survei tersebut mengungkap,
79,4 responden menganggap kebijakan pemerintah buruk, terutama
menyangkut penetapan upah buruh. Hanya 9,6 persen yang menyatakan
tetap, 9,3 persen menilai baik, dan 1,7 persen abstain.

''Harus diakui bahwa banyak kebijakan SBY soal buruh yang memang tidak
populis, terkesan tidak berpihak pada buruh,'' ujarnya. Misalnya, kata
Arif, keluarnya SKB empat menteri beberapa waktu lalu yang memancing
protes luas dari kalangan buruh di hampir seluruh daerah.

Namun, di bagian lain survei, SBY muncul sebagai tokoh yang paling
sering diperbincangkan menjelang pemilu. SBY paling sering dibicarakan
34,9 persen responden, disusul Megawati Soekarnoputri (14,2 persen),
Jusuf Kalla (14,4 persen), Prabowo Subianto (12,8 persen), dan
beberapa tokoh lain.

''Ini menarik, SBY paling banyak dibicarakan buruh. Tetapi, mengingat
tingkat keterpilihannya, sepertinya yang dibicarakan adalah hal-hal
negatif,'' ujar Arif.

Lantas, siapa yang dianggap paling bisa memperbaiki nasib buruh?
Survei itu mengungkap, Megawati menduduki posisi puncak. Capres PDI
Perjuangan tersebut dipilih 30,7 persen responden. Jusuf Kalla
membayangi di bawahnya dengan 19,6 persen, baru kemudian SBY 12,7
persen, dan tokoh-tokoh lain.

Mantan anggota KPU Mulyana W. Kusumah menilai, survei itu menjadi
menarik karena hanya dilakukan di internal buruh. "Kalau survei ini
serius, kebenarannya akan lebih tinggi karena homogenitas responden
juga lebih tinggi ketimbang survei pada umumnya," ujarnya.

Dia pun memahami tingginya angka responden yang menyatakan tak akan
memilih SBY lagi pada 2009. ''Sebab, selama ini, anggota kabinet dan
jajaran pemerintah di bidang perburuhan memang terkesan kurang
berkomunikasi dengan buruh,'' tambahnya. Akibatnya, lanjut Mulyana,
buruh tidak mengetahui program positif pemerintah di bidang
perburuhan. (dyn/mk)

Tidak ada komentar:

 

Copyright 2009 All Mangapul Nababan themes by One 4 All