Bogor - Angka Golput yang tinggi menjadi permasalahan dalam setiap pelaksanaan Pemilu. Oleh karena itu, perlu ditemukan solusi jitu untuk menekan angka Golput. Solusi menekan angka Golput yang dilakukan Bupati Bogor H Rachmat Yasin (RY) dengan memberikan rewards kepada camat yang bisa meningkatkan partisipasi pemilih hingga 90 persen mendapat respon positif dari para politisi.
Menurut Wakil Ketua Bidang OKK DPC Partai Golkar Kota Bogor Tauhid J Tagor, apapun upaya untuk menekan angka Golput adalah baik. Tingginya angka Golput, perlu dipecahkan dengan melibatkan peranserta seluruh elemen masyarakat, termasuk pengurus partai politik.
“Angka Golput bisa ditekan, jika semua pihak bisa bekerjasama melawannya dengan berbagai cara. Terobosan yang dilakukan Bupati Bogor perlu direspon dengan bijak, dan mungkin juga harus dicari terobosan-terobosan lain oleh para pengurus partai,” tutur Tagor kepada Jurnal Bogor, Jumat (13/3).
Dalam menekan angka Golput, DPC Partai Golkar Kota Bogor telah menyiapkan beberapa strategi. Salah satunya dengan menggencarkan sosialisasi tentang pentingnya menggunakan hak pilih pada Pemilu 2009 kepada masyarakat secara door to door.
“Dalam setiap kesempatan bertemu dan bersilaturahmi dengan warga, kami selalu menyempatkan menyosialisasikan tatacara memilih, termasuk mengingatkan masyarakat bahwa hak suara dalam pemilu menentukan masa depan bangsa dan negeri ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPC Partai Patriot Kota Bogor Beninu Agrobie, Pemilu disebut sukses, jika angka masyarakat yang menggunakan hak pilihnya tinggi dibandingkan angka Golput. Oleh karena itu, peran pengurus partai politik dalam menekan angka Golput, sangatlah penting.
“Partai sangat membutuhkan suara masyarakat. Oleh karena itu, pengurus partai harus bahu membahu membantu Pemerintah dan KPU dalam menekan angka Golput. Angka Golput tinggi menandakan masyarakat sudah tidak percaya atau ragu-ragu dengan figur caleg tersebut. Untuk itu pula, caleg harus bisa meyakinkan masyarakat, bukan dengan janji, namun dengan bukti,” ujar Beninu.
Beninu menambahkan, belum lama ini seluruh pengurus partai politik peserta pemilu 2009 di Kota Bogor telah melakukan kesepakatan untuk membantu KPU menekan angka Golput dan mengecam organisasi masyarakat yang mengajak masyarakat untuk Golput.
“Kami mengecam siapa saja yang mengajak masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu ini. Pokoknya, siapa yang mengajak Golput akan berhadapan dengan Patriot,” tegasnya.
Sementara itu, menurut Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bogor Yocie Gusman, untuk mengantisipasi Golput, kinerja dewan dan partai harus ditingkatkan.
“Jika kinerja dewan dan partai bagus, maka otomatis Golput berkurang. Ikhtiar mengiming-imingi hadiah boleh-boleh saja, meskipun kurang tepat, harusnya KPU mempercepat dan memperluas sosialisasi, sedangkan partai-partai memberikan pendidikan politik yang benar kepada masyarakat,” ujar Yocie.
Perang melawan Golput semakin memanas. Beragam unsur masyarakat sepakat menjadikan Bogor sebagai barometer politik nasional dengan menyukseskan penyelenggaraan Pemilu 2009.
Komitmen tersebut mengemuka dalam acara Bincang Malam yang secara langsung disiarkan RRI Bogor, tadi malam. Dalam acara tersebut tampak hadir Komandan Korem 061/SK Kolonel Inf. Agus Sutomo, Kapolwil Bogor Kombes Pol Agung Sabar Santoso, Ketua KPU Kota Bogor Agus Teguh, Ketua Panwaslu Ir Rudi, Ketua Bogor Political Club (BPC) Devia Sherly SH, Kepala LPP RRI Bogor Nuning, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemda Kota dan Kabupaten Bogor.
“Saya optimis Bogor bisa jadi barometer, sebab sebenarnya masyarakat sangat antusias menyambut Pemilu. Adapun mengenai kalangan yang berpihak pada Golput, saya rasa itu hanya segelintir,” ungkap Danrem Kolonel Inf. Agus Sutomo kepada Jurnal Bogor, Jumat (13/3).
Agus mengatakan, TNI memiliki komitmen kuat untuk mengantarkan Bogor menuju penyelenggaraan Pemilu yang sukses. Akan tetapi, tetap menjaga netralitas dengan menghargai beberapa batasan.
“Kendati mendampingi Polri dalam pengamanan, tapi kami punya batasan dengan berada minimal radius 100 meter dari Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ini intruktsi langsung dari pusat, setiap prajurit dilengkapi buku saku tentang batasan pengamanan,” jelasnya.
Dikatakan Agus, telah diadakan apel gelar pasukan di Stadion GOR Pajajaran pada 11 Maret 2009, yang melibatkan TNI, Polri, Linmas, pimpinan partai, dan KPU. “Secara organisasi, koordinasi sudah mantap, semua berjalan baik,” ujarnya.
Selan itu, lanjutnya, akan disiagakan 9 SSK atau 900 prajurit pada pemungutan suara 9 April 2009 mendatang. “Jadi, 400 personel terjun ke lapangan, sedangkan 500 siaga di tempat. Selain itu, istri dan anak TNI tidak boleh Golput, itu untuk memompa partisipasi politik masyarakat,” jelasnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar