.linkopacity img { filter:alpha(opacity=30); -moz-opacity: 0.30; opacity: 0.30; border:0; } .linkopacity:hover img { filter:alpha(opacity=100); -moz-opacity: 1.0; opacity: 1.0; border:0; } .linkopacityxtra:hover img { filter:alpha(opacity=1.1); -moz-opacity: 1.1; opacity: 1.1; border:0; }


Daftar Blog Saya

Sabtu, 07 Maret 2009

Flashback Pemilu 2004

Koalisi Demokrat-Golkar sesungguhnya tidak dimulai semenjak Pemilu 2004, tetapi ketika JK meraih kursi tertinggi di Partai Beringin itu dengan menyingkirkan Akbar Tandjung. Saat Pemilu 2004, Golkar berhasil meraih kembali gelar juara Pemilu setelah di tahun 1999 dikalahkan oleh PDIP. Dengan modal kemenangan Pemilu, Golkar pun mengajukan sendiri calon presidennya untuk merebut Istana Negara. Golkar akhirnya membuat konvensi agar penyaringan terhadap figur-figur yang siap menjadi presiden dapat dilaksanakan secara terbuka dan dinilai oleh publik. Konvensi ini mencuatkan nama Wiranto, yang akhirnya menjadi calon presiden dari Golkar, berpasangan dengan Salahuddin Wahid. Selama proses konvensi, JK sebenarnya juga turut serta sebagai bakal calon presiden dari Golkar, tetapi namanya tidak semencuat Wiranto, Akbar Tandjung, ataupun Prabowo. JK pun akhirnya mengundurkan diri dari konvensi untuk berpasangan dengan SBY yang telah lama dideklarasikan sebagai calon presiden dari Demokrat. Keputusan JK untuk menjadi pasangan SBY tidak didukung secara institusional oleh Golkar, meski tidak dapat dipungkiri banyak kader Golkar yang turut “membelot” untuk mendukung pasangan SBY-JK, bukannya Wiranto-Gus Solah. Pilpres 2004 pun berlangsung, pasangan SBY-JK berhasil menempati urutan teratas dalam putaran pertama pilpres, sedangkan Wiranto-Gus Solah hanya menempati urutan ketiga sehingga tidak dapat lolos ke putaran selanjutnya. Menanggapi kekalahan dari calon yang diusungnya, Golkar membuat manuver politik dengan membuat Koalisi Kebangsaan, yang mendukung pasangan Mega-Hasyim. Koalisi itu terdiri dari 4 Partai yang tidak ikut dalam gerbong SBY di Pilpres, yaitu PDIP, Golkar, PPP, dan PDS. Koalisi yang sesungguhnya sangat kuat ini (karena menyatukan dua partai pemenang pemilu, yang ditotalkan dapat melebihi 1/2n+1 kursi di DPR) ternyata tidak dapat membendung popularitas SBY-JK, seperti yang telah diprediksi sebagian besar lembaga-lembaga survei. SBY-JK memenangkan Pilpres 2004 putaran kedua dengan perolehan 60% suara, mengalahkan Koalisi Kebangsaan pendukung Mega-Hasyim yang hanya berhasil mendulang 40% suara.

Beberapa saat setelah Pilpres 2004, konstalasi politik di Senayan masih belum berubah. Golkar masih berada di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung, dan terlihat sebagai partai oposisi. Bahkan pada saat itu, JK menyatakan bahwa kondisi yang ada sangat baik dalam konteks berdemokrasi, karena memungkinkan adanya cheks and balances antara eksekutif dengan yudikatif. Tetapi setelah SBY-JK dilantik untuk menduduki Istana Negara, JK melakukan manuver politik dengan mencalonkan diri dalam Kongres Partai Golkar sebagai calon Ketua Umum, bersaing dengan Akbar Tandjung. Di atas kertas, Akbar Tandjung diperkirakan dapat memenangkan kembali kursi Ketua Umum, namun JK berhasil membuat kejutan dengan mengambil banyak suara dari DPC yang sebelumnya menjadi pendukung Akbar dan berhasil merebut kursi nomor satu di Partai Beringin. Dari titik inilah Golkar secara otomatis berpindah perahu dari oposisi menjadi partai pemerintah, meskipun tanpa kontrak politik seperti yang dibuat oleh Demokrat dengan PKS.

Tidak ada komentar:

 

Copyright 2009 All Mangapul Nababan themes by One 4 All