Infokom-Media PDI Perjuangan: Efek dan pengaruh masa penjajahan yang berlangsung hingga 350 tahun di Indonesia berakibat masih menyisakan persoalan kultural yang masih terasa hingga saat ini, yaitu terpuruknya mental bangsa. Keterpurukan dan rasa minder (inferiority) juga 'menjangkiti' kalangan elit bangsa sehingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan malah merugikan bangsa sendiri.
"Masa penjajahan 350 tahun itu juga membawa suatu pengaruh yang menurut luar biasa. Dalam pembangunan mental bangsa kita membangkitkan kembali harga diri bangsa ini," ungkap calon Presiden Ibu Hj Megawati Soekarnoputri, didampingi calon Wakil Presiden Bapak Prabowo Subianto.
Bapak Prabowo, dalam melengkapi pemaparan Ibu Mega, menjelaskan, keterpurukan mental karena efek penjajahan tersebut cukup besar, dan sangat terasa terutama di kalangan elit negeri. "Saya melihat itu berakibat cukup besar, khususnya terhadap elit bangsa , yaitu suatu rasa rendah diri, inferiority complex bawa sadar di kalangan elit kita," ungkap beliau.
Bentuk inferiority complex di kalangan elit tersebut tercermin dalam berbagai kebijakan-kebijakan yang malah merugikan bangsanya sendiri, dan membuat bangsa Indonesia hingga saat ini menjadi bangsa yang lemah, dan selalu tunduk kepada kekuatan asing, dan meminta-minta.
"Kami memang sangat risau bahwa bangsa ini sedang dalam proses pemiskinan, dalam arti kekayaan-kekayaan kita tidak mampu kita jaga, termasuk kekayaan alam, lingkungan, ekonomi dan budaya sehingga kekayaan-kekayaan itu menglair ke luar negeri," ungkap cawapres H Prabowo Subianto seraya menjelaskan ekeses pemiskinan tersebut terhadap pemiskinan budaya Indonesia.
Hemat beliau, berlaku jujur dan berani mengakui bahwa bangsa kita pernah "kalah" dari kekuatan asing (penjajahan) di masa lalu dan mengakui bahwa kita memiliki kelemahan merupakan hal yang sangat penting untuk dapat menatap ke depan, tanpa terkukung rasa inferioritas complex tersebut.
"Kita harus jujur bahwa kita pernah kalah terhadap kekuatan-kekuatan asing. Dan keberanian untuk menatap muka kita sendiri di hadapan cermin, keberanian untuk mengakui bahwa kita punya kelemahan, saya kira sangat penting. Jangan sampai rasa rendah diri ini berkelanjutan terus menerus sehingga di masa mendatang kita terus merasa menjadi bangsa yang kalah."
Memperbaiki mental bangsa dan keluar dari 'syndrom inferiority complex' sebagai salah satu upaya membangkitkan kembali mental bangsa untuk mencapai kembali kebesaran bangsa merupakan suatu tantangan bagi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang akrab dengan akronim "Mega-Prabowo" ini jika kelak diamanatkan oleh rakyat untuk memimpin bangsa periode 2009-2014.
"Saya kira ini tantangan bagi kita berdua. Kami tidak ingin melihat bangsa kita terus menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu tunduk kepada kekuatan asing, bangsa yang hanya bisa minta-minta bantuan luar negeri terus, bangsa yang selalu menjadi 'anak manis' di hadapan kekuatan-kekuatan dunia. Saya kira ini tantangan budaya bagi kita, untuk bangkit sebagai bangsa yang berdaulat, bangsa yang mandiri," papar Pak Prabowo


Tidak ada komentar:
Posting Komentar